Sabtu, 22 April 2017

Anak Popeye Si Pelaut

Sekian lama jari jemari ini tak lagi merangkai tulisan dalam sebuah kertas. Bahagia rasanya saya bisa kembali menuliskan apa yang sekiranya bisa menjadi alternative bacaan untuk para pembaca. Masih dengan tema “PELAUT ( A SAILOR MAN )”. Kali ini saya akan membahas tentang bagaimana kehidupan seorang anak pelaut.

Saya memiliki seorang putri kecil yang sangat cantik, saya dan suami menyematkan Tiara Zahsy Suherman sebagai nama untuk malaikat kecil yang Allah titipkan buat kami. Kehadirannya dalam kehidupan saya adalah kebahagiaan yang tak ternilai, menjadi seorang ibu tentu adalah impian setiap wanita, beruntung saya dipercaya untuk mengemban amanah sebesar ini. Namun, terbesit kekhawatiran dalam hati ini, apakah saya bisa melewati hari-hari baru menjadi seorang ibu tanpa suami…??? Apa yang akan saya katakan pada anak saya jika ia mencari keberadaan ayahnya…??? Sungguh dilema hati ini membuat saya harus kembali memperkokoh benteng kesabaran dan keikhlasan.



Saat melahirkan, suami saya tidak bisa mendampingi proses bersejarah dalam kehidupan ini dikarenakan ijin cuti yang tak ia dapatkan. Saya kuat dan bisa melewati proses itu berkat doa dan keikhlasan suami, dan juga dukungan dari keluarga tercinta. Akhirnya ijin cuti didapat suami saat usia putri kami 2 minggu, dan itupun hanya dapat cuti 10 hari saja. Ingin rasanya suami bisa lebih lama dirumah untuk menemani kami, namun apa daya demi memenuhi tugas dan tanggung jawabnya, saya harus kembali mengikhlaskan keberangkatan suami berlayar menempuh ribuan mil lautan. Saya tatap mata kecil nan indah itu dengan kegetiran dalam hati, “anakku sayang, kita harus bisa kuat melewati hari-hari nanti walau tanpa ayah, percayalah bahwa ayah sangat merindukan kita disana”, ucapku pada bayi mungil yang masih terjaga dalam dekapanku.




Pagi, siang, malam terus berganti. Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan saya dan Tiara lewati dengan mudah. Tidak ada kesulitan bagi saya untuk menjelaskan keberadaan ayahnya karena ia masihh terlalu kecil untuk bertanya “ayah dimana…???. Akhirnya setelah hampir setahun berlalu, suami saya pulang. Disinilah saya melihat ikatan seorang anak dan ayah yang begitu dekat meskipun keberadaan fisik yang jauh, Tiara terlihat begitu nyaman bersama ayahnya. Dia mulai terbiasa dengan keberadaan ayahnya, meski belum lancar dalam berbicara dia mulai terbiasa memanggil ayah setiap bangun dari tidurnya. Terlihat binar bahagia dari sorot mata suami saya dan sambil menggenggam erat tangan saya ia berkata, “terimakasih telah menjadi istri yang baik untuk ayah dan terimakasih telah menjadi bunda yang hebat untuk anak kita”.



Sampailah dimana titik kami harus kembali berpisah dalam waktu yang cukup lama. Masa cuti sebanyak apapun akan terasa sangat singkat bagi kami keluarga pelaut. Lagi-lagi dengan dalih kalimat “Demi tugas dan tanggung jawab serta demi masa depan” perpisahan harus terjadi. Terpisah jarak yang begitu jauh tidaklah menjadi masalah bagi saya, karena saya sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Tapi tidak dengan malaikat kecil saya,  setiap bangun dari tidurnya ia mencari sosok laki-laki yang selama hampir 2 bulan ini menemaninya. “Ayah… Ayah… Ayah…” teriaknya dari dalam kamar dan ia mulai mencari ayah disetiap ruangan rumah. Tak kuasa rasanya hati berada dalam situasi seperti ini, saya mulai merasa lemah setiap kali Tiara memanggil ayah dalam setiap tangisnya. 
Sambil memperlihatkan foto-foto bersama ayah, saya mulai menjelaskan dengan cara bercerita tentang pekerjaan ayahnya, dimana ayahnya, dan kenapa ayahnya tidak ada dirumah. Dia masih sangat kecil untuk dapat mengerti kondisi ini, akan tetapi saya sangat yakin dia bisa menangkap apa yang saya jelaskan padanya. Kini anak saya sudah berumur 1 tahun 10 bulan. Beruntungnya saya memiliki anak yang super aktif dan pintar, saat anak seusianya menangis dan mencari ayahnya sebagai tempat mengadu, ia hanya perlu masuk ke kamar dan berbicara dengan foto ayahnya, “Ayah… ala didit muuukkk (Red. Ayah… Tiara digigit semut)” .


Anak adalah amanah yang Tuhan titipkan untuk kita didik dan jaga dengan sebaik-baiknya. Sementara kita berusaha mengajari anak-anak tentang pelajaran hidup, justru anak-anak yang mengajarkan kita apa itu kehidupan. Tetaplah sabar dalam menghadapi polah tingkah buah hati tercinta, karena senyum yang tergambar diwajahnya adalah kekuatan terbesar bagi seorang ibu. 

2 komentar:

  1. Assalamu alaikum mba'.salam kenal,alhamdulillah senang sekali melihat lebersamaan di poto anak & ayah.Sy jg seorang istri pelaut,serta seorang ibu dr 2 anak laki2.Slma proses kelahiran dua anakku suami selalu mendapingi,sampai pada usia putra keduaku 1 bulan,suami pergi smpai 9 bulan lamanya.Sedih rasanya krn suami pergi tdk pernah selama ini,fikiran negatif sering mungcul tp saat komunikasi krmbali dengan suami rasa negatif sirna dan Dgn mendengar suaranya saja hati rasanya sulit untuk tdk mempercayainya.Krn memang mba' suamiku dr awal pacaran sampai menikah sepengetahuanku dia tdk prnah membohongiku.Tapi sedihnya bertambah saat aku melihat anak2 ku yang sangat merindukan sosok ayah.saya sering menangis sendiri melihat semua itu.Ingin rasanya berkumpul bersama tp saat ini sangat sulit sekali.mksih mba'

    BalasHapus
  2. Walaikumsalam...
    Alhamdulillah ya mba, 2 kali lahiran dtemani suami. Yaa memang sudah resiko pekerjaan suami yg mengharuskan anak2 jauh dari sosok ayahnya.sy juga sedih klo anak sy manggil2 ayahnya, tapi sy coba jelaskan dg pelan dan penuh kelembutan, meski baru 2tahun anak sy bisa memahami maksud sy saat menjelaskan keberadaan ayahnya...
    Semoga kita selalu dalam lindungan Allah yaa mba... Tetap sabar dan berdoa....

    BalasHapus