Jumat, 09 Juni 2017

Mantan...??? ya udahlah yaa...

Setiap orang mempunyai bagian rezekinya masing-masing, perkara itu adalah rahasia Allah SWT. Jodoh, rezeki dan juga ajal tidak ada yang pernah tahu kepastian soal itu, kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Kita tidak akan pernah terlepas dari masalalu, akan tetapi itu tidak lantas menjadikan kita larut dalam kenangan, seperti kata anak sekarang “Move on dong…!!!”, akan tetapi jadikanlah masalalu itu sebagai pembelajaran untukmu melanjutkan perjalanan menuju titik dimana kamu merasa ada ketenangan dan kenyamanan bagimu juga orang sekelilingmu.

Berbicara soal “masalalu”, tentu kita semua punya cerita masing-masing soal itu, tapi untuk kali ini bukan cerita itu yang akan aku bahas disini, melainkan bagaimana kita menyikapi masalalu itu dan mensyukuri apa yang kini telah kita dapatkan.

“Eh jeng, tau nggak kalo dia sekarang sukses lho, beruntung banget yaa yang jadi pendamping dia, susahnya sama kamu malah orang lain yang dapet senengnya.”

“Aku kemaren nggak sengaja ketemu dia, sekarang beda banget ya style-nya. Kalo dulu dibawah standard, sekarang malah keliatan exclusive tau jeng”

“Aku jadi kesel tau nggk sih, aku nyaksiin betapa sweetnya kalian menjalani hubungan dari nol, malah kalian nggk nikah. Apalagi sekarang dia jadi orang hebat”.

Itulah beberapa opini dari orang ketika melihat sesuatu tidak secara luas. Come on sist, open your mind.  Manusiawi memang jika kita bersimpati, apalagi kita memang dekat dan tau secara pasti fakta yang ada, akan tetapi ada baiknya jika kita menyikapinya dengan lebih banyak “menerima” apa yang sudah menjadi ketentuan Sang Pencipta.

Bahagialah ketika orang lain berbahagia, jangan malah sebaliknya sedih ketika orang lain berbahagia. Ketika opini-opini diatas menghampiriku, aku hanya bisa memberikan senyum sebagai jawaban pertama. Jika dulu dalam keadaan sulit saja aku bahagia untuknya, apalagi sekarang saat dia dalam keadaan nyaman. Tentu aku bahagia, tapi kadarnya tidak seperti dulu, karna kini aku dan dia hanyalah bagian dari cerita lalu yang bukunya pun sudah tutup termakan waktu.

Allah SWT telah memilihkan satu imam untuk membimbingku, menuntunku, dan mengajakku menuju Jannah-Nya. Dia adalah suamiku, orang yang penuh kelembutan dalam bersikap, orang yang santun dalam berbicara, orang yang gigih memenuhi tanggung jawabnya sebagai imam dalam rumah tangga. Bersamanya kini aku mengarungi bahtera rumah tangga, seorang putri melengkapi rumah kami. Materi yang cukup (karna Alhamdulillah setiap hari masih bisa makan nasi, bukan berarti tajir melintir yaa), cinta kasih yang tulus, anak yang cantik, keluarga yang penyanyang aku dapatkan dalam satu kotak “Rumah Tangga” yang kami awali dengan kata Bismillah semata-mata untuk menyempurnakan ibadah kami.

Allah SWT berfirman ,”Faabiayyi ala irabbi kuma tukadzibaan  ( Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kau dustakan ) {QS. Ar-Rahman : 30}”.  Dengan semua yang telah Allah berikan untukku, apakah masih pantas untuk aku berucap “Seandainya…???”. Astagfirullah…. Tidaklah demikian itu akan menjadikanku orang yang tidak bersyukur, na’udzubillah….
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan ; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” { QS. Ibrahim : 7 }


Jadi, mari kita perbaiki diri, terus belajar untuk menjadi lebih baik, perkara “mantan” sukses itu adalah rezekinya atas usahanya sendiri, tidak ada hubungannya dengan kehidupanmu sekarang. Fokus saja dengan apa yang menjadi kewajiban utamamu, yakni sebagai istri yang berbakti bagi suami dan ibu yang baik bagi anak dirumah. Jangan lupa berbahagia yaa sist…