Setiap orang mempunyai bagian
rezekinya masing-masing, perkara itu adalah rahasia Allah SWT. Jodoh, rezeki
dan juga ajal tidak ada yang pernah tahu kepastian soal itu, kita manusia hanya
bisa berusaha dan berdoa. Kita tidak akan pernah terlepas dari masalalu, akan
tetapi itu tidak lantas menjadikan kita larut dalam kenangan, seperti kata anak
sekarang “Move on dong…!!!”, akan tetapi jadikanlah masalalu itu sebagai
pembelajaran untukmu melanjutkan perjalanan menuju titik dimana kamu merasa ada
ketenangan dan kenyamanan bagimu juga orang sekelilingmu.
Berbicara soal “masalalu”, tentu
kita semua punya cerita masing-masing soal itu, tapi untuk kali ini bukan
cerita itu yang akan aku bahas disini, melainkan bagaimana kita menyikapi
masalalu itu dan mensyukuri apa yang kini telah kita dapatkan.
“Eh jeng, tau nggak kalo dia sekarang sukses
lho, beruntung banget yaa yang jadi pendamping dia, susahnya sama kamu malah
orang lain yang dapet senengnya.”
“Aku kemaren nggak sengaja ketemu
dia, sekarang beda banget ya style-nya. Kalo dulu dibawah standard, sekarang
malah keliatan exclusive tau jeng”
“Aku jadi kesel tau nggk sih, aku
nyaksiin betapa sweetnya kalian menjalani hubungan dari nol, malah kalian nggk
nikah. Apalagi sekarang dia jadi orang hebat”.
Itulah beberapa opini dari orang
ketika melihat sesuatu tidak secara luas. Come on sist, open your mind. Manusiawi memang jika kita bersimpati, apalagi
kita memang dekat dan tau secara pasti fakta yang ada, akan tetapi ada baiknya
jika kita menyikapinya dengan lebih banyak “menerima” apa yang sudah menjadi
ketentuan Sang Pencipta.
Bahagialah ketika orang lain
berbahagia, jangan malah sebaliknya sedih ketika orang lain berbahagia. Ketika
opini-opini diatas menghampiriku, aku hanya bisa memberikan senyum sebagai
jawaban pertama. Jika dulu dalam keadaan sulit saja aku bahagia untuknya,
apalagi sekarang saat dia dalam keadaan nyaman. Tentu aku bahagia, tapi
kadarnya tidak seperti dulu, karna kini aku dan dia hanyalah bagian dari cerita
lalu yang bukunya pun sudah tutup termakan waktu.
Allah SWT telah memilihkan satu
imam untuk membimbingku, menuntunku, dan mengajakku menuju Jannah-Nya. Dia
adalah suamiku, orang yang penuh kelembutan dalam bersikap, orang yang santun
dalam berbicara, orang yang gigih memenuhi tanggung jawabnya sebagai imam dalam
rumah tangga. Bersamanya kini aku mengarungi bahtera rumah tangga, seorang
putri melengkapi rumah kami. Materi yang cukup (karna Alhamdulillah setiap hari
masih bisa makan nasi, bukan berarti tajir melintir yaa), cinta kasih yang tulus,
anak yang cantik, keluarga yang penyanyang aku dapatkan dalam satu kotak “Rumah
Tangga” yang kami awali dengan kata Bismillah semata-mata untuk menyempurnakan
ibadah kami.
Allah SWT berfirman ,”Faabiayyi
ala irabbi kuma tukadzibaan ( Maka
nikmat Rabb-mu yang manakah yang kau dustakan ) {QS. Ar-Rahman : 30}”. Dengan semua yang telah Allah berikan
untukku, apakah masih pantas untuk aku berucap “Seandainya…???”. Astagfirullah….
Tidaklah demikian itu akan menjadikanku orang yang tidak bersyukur, na’udzubillah….
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan ; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
{ QS. Ibrahim : 7 }
Jadi, mari kita perbaiki diri,
terus belajar untuk menjadi lebih baik, perkara “mantan” sukses itu adalah
rezekinya atas usahanya sendiri, tidak ada hubungannya dengan kehidupanmu
sekarang. Fokus saja dengan apa yang menjadi kewajiban utamamu, yakni sebagai
istri yang berbakti bagi suami dan ibu yang baik bagi anak dirumah. Jangan lupa
berbahagia yaa sist…

