Jumat, 09 Juni 2017

Mantan...??? ya udahlah yaa...

Setiap orang mempunyai bagian rezekinya masing-masing, perkara itu adalah rahasia Allah SWT. Jodoh, rezeki dan juga ajal tidak ada yang pernah tahu kepastian soal itu, kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Kita tidak akan pernah terlepas dari masalalu, akan tetapi itu tidak lantas menjadikan kita larut dalam kenangan, seperti kata anak sekarang “Move on dong…!!!”, akan tetapi jadikanlah masalalu itu sebagai pembelajaran untukmu melanjutkan perjalanan menuju titik dimana kamu merasa ada ketenangan dan kenyamanan bagimu juga orang sekelilingmu.

Berbicara soal “masalalu”, tentu kita semua punya cerita masing-masing soal itu, tapi untuk kali ini bukan cerita itu yang akan aku bahas disini, melainkan bagaimana kita menyikapi masalalu itu dan mensyukuri apa yang kini telah kita dapatkan.

“Eh jeng, tau nggak kalo dia sekarang sukses lho, beruntung banget yaa yang jadi pendamping dia, susahnya sama kamu malah orang lain yang dapet senengnya.”

“Aku kemaren nggak sengaja ketemu dia, sekarang beda banget ya style-nya. Kalo dulu dibawah standard, sekarang malah keliatan exclusive tau jeng”

“Aku jadi kesel tau nggk sih, aku nyaksiin betapa sweetnya kalian menjalani hubungan dari nol, malah kalian nggk nikah. Apalagi sekarang dia jadi orang hebat”.

Itulah beberapa opini dari orang ketika melihat sesuatu tidak secara luas. Come on sist, open your mind.  Manusiawi memang jika kita bersimpati, apalagi kita memang dekat dan tau secara pasti fakta yang ada, akan tetapi ada baiknya jika kita menyikapinya dengan lebih banyak “menerima” apa yang sudah menjadi ketentuan Sang Pencipta.

Bahagialah ketika orang lain berbahagia, jangan malah sebaliknya sedih ketika orang lain berbahagia. Ketika opini-opini diatas menghampiriku, aku hanya bisa memberikan senyum sebagai jawaban pertama. Jika dulu dalam keadaan sulit saja aku bahagia untuknya, apalagi sekarang saat dia dalam keadaan nyaman. Tentu aku bahagia, tapi kadarnya tidak seperti dulu, karna kini aku dan dia hanyalah bagian dari cerita lalu yang bukunya pun sudah tutup termakan waktu.

Allah SWT telah memilihkan satu imam untuk membimbingku, menuntunku, dan mengajakku menuju Jannah-Nya. Dia adalah suamiku, orang yang penuh kelembutan dalam bersikap, orang yang santun dalam berbicara, orang yang gigih memenuhi tanggung jawabnya sebagai imam dalam rumah tangga. Bersamanya kini aku mengarungi bahtera rumah tangga, seorang putri melengkapi rumah kami. Materi yang cukup (karna Alhamdulillah setiap hari masih bisa makan nasi, bukan berarti tajir melintir yaa), cinta kasih yang tulus, anak yang cantik, keluarga yang penyanyang aku dapatkan dalam satu kotak “Rumah Tangga” yang kami awali dengan kata Bismillah semata-mata untuk menyempurnakan ibadah kami.

Allah SWT berfirman ,”Faabiayyi ala irabbi kuma tukadzibaan  ( Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kau dustakan ) {QS. Ar-Rahman : 30}”.  Dengan semua yang telah Allah berikan untukku, apakah masih pantas untuk aku berucap “Seandainya…???”. Astagfirullah…. Tidaklah demikian itu akan menjadikanku orang yang tidak bersyukur, na’udzubillah….
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan ; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” { QS. Ibrahim : 7 }


Jadi, mari kita perbaiki diri, terus belajar untuk menjadi lebih baik, perkara “mantan” sukses itu adalah rezekinya atas usahanya sendiri, tidak ada hubungannya dengan kehidupanmu sekarang. Fokus saja dengan apa yang menjadi kewajiban utamamu, yakni sebagai istri yang berbakti bagi suami dan ibu yang baik bagi anak dirumah. Jangan lupa berbahagia yaa sist… 


Senin, 24 April 2017

Cerita Istri Pelaut season 2 (Olive dari Lombok)

Artikel kali ini saya buat untuk menjawab pertanyaan para Olivers dan juga orang-orang diluar sana yang tak sedikit memandang sinis terhadap saya sebagai istri pelaut. Jika sebelumnya saya membahas tentang si Pelaut atau biasa saya menyebutnya si Popeye, sekarang giliran ngebahas pasangannya Popeye “Si Olive”. J
Jika para TNI terkenal dengan PERSITnya, Polisi dengan BHAYANGKARInya, PNS dengan DHARMA WANITAnya, maka POPEYE si PELAUT dengan OLIVEnya. Menjadi seorang Olive tentu bukan hal yang mudah untuk dijalani, bukan pula hal sulit untuk dilewati, kita hanya butuh stok sabar yang berlimpah karena untuk melewati itu semua akan banyak sekali membutuhkan kesabaran. Ada beberapa point yang ingin saya bahas disini.
1.      Mitos Pelaut Selingkuh
Ketika ditanya, setiap istri pelaut akan bilang bahwa “ Saya bangga jadi istri pelaut”.
Ya, tentu saja saya bangga. Karena pelaut adalah lelaki yang telah dididik dan dilatih untuk bertanggung jawab. Jangan lihat segelintir orang yang mengaku pelaut tapi tidak bertanggung jawab. Itu adalah satu diantara seribu.
Kebanggaan saya adalah suami saya bekerja siang dan malam demi asap dapur tetap mengepul, mencari rejeki buat keluarga. Meskipun dikatai macam-macam, dicap yang jelek-jelek, tapi suami saya tetap memberi yang terbaik buat keluarga.Menjaga hatinya buat anak istrinya.
Saya bangga, meskipun suami saya bukan pejabat, bukan pula seorang yang berpangkat. Jarang dikenal di antara masyarakat. Tapi dia lelaki yang punya kehormatan. Dan ternyata, pelaut suka selingkuh, pelaut banyak istri, lama2 menjadi mitos di tahun 2017 ini.
Karena hal itu tidak terbukti.
Gak percaya? Survey sendiri.
Dan bandingkan hasilnya dengan orang yang kerja di darat.

2.      Duit Pelaut Banyak
Tidak sedikit orang beranggapan pelaut gajinya buaannyaakkk… Udah gitu langsung masuk ke rekening istri pula. Duuuuhhh seneng pake banget yaa jadi istri pelaut, diam dirumah gajiannya tiap bulan. Hellloooo….!!! Ini sudah 2017 loohhh…
Itu duit emang banyak kalau dianggurin aja, nggk usah dipake pasti numpuk kayak gunung Rinjani kalau anak Lombok bilang. Hehe J
Disinilah fungsi kita sebagai istri, menjalankan salah satu kewajiban kita “Menjaga harta suami”. Sekarang kerjaan udah ngerangkap jadi accounting padahal dulu waktu sekolah belajarnya tentang kesehatan hewan. Buat kalian yang bilang “gaji pelaut banyak tapi susah dimintai tolong”, cukup saya jawab, “setiap orang punya kebutuhan dan prioritas”.
Saya sebagai accounting dalam rumah tangga saya tentu harus bisa mengatur keuangan agar kebutuhan keluarga saya terpenuhi. Setiap rumah tangga itu punya pergumulannya sendiri, jika dirumah saya masalahnya adalah kurang berkumpul, tapi mungkin ditempat lain adalah kurang makan. Jadi syukuri setiap rejeki yang Tuhan titipkan, baik itu sedikit ataupun banyak.

3.      Popeye sandar jadi moment yang ditunggu-tunggu
Sekian lama ditinggal berlayar tentu buat kamu rindu serindu-rindunya. Terpisahkan oleh deburan ombak di lautan tanpa komunikasi (karena signal nggak selamanya ada dilaut) tentu bikin hati dilanda kangen, saat-saat seperti ini yang membuat gejolak kasmaran semakin menggebu. Jadi, begitu kamu mendapatkan pesan bahwa sang popeye dalam perjalanan sandar akan membuat hati kamu tidak karuan, serasa baru pacaran.

4.      Kamu yang punya pasangan popeye bakal akrab sama yang namanya : video call!
Di era tekhnologi seperti sekarang ini membuat dampak positif  buat kalian yang menjalani hubungan LDR ( Long Distance Relationship ), apalagi buat kamu yang punya pasangan seorang pelaut. Ini menjadi penting buat kamu miliki. Ada banyak aplikasi smartphone yang mendukung untuk kamu menjalani LDR-an tanpa harus ribet dan bosan menunggu pasangan kamu kembali dari tugas berlayarnya.

5.      Tak dipungkiri, jadi olive bikin kamu mendadak tuli dengan omongan orang
Menjadi bahan candaan teman-temanmu sudah menjadi hal pasti bagi seorang olive. Akan tetapi itu membuat kamu kuat mental serta mendadak tuli dengan omongan-omongan yang kadang bikin kamu jadi  ngenes sendiri. Keseruan akan muncul ketika kamu menemukan joke untuk menjatuhkan candaan temanmu. 

6.      Olive dengan sekuat tenaga akan menjaga kesetiaannya
Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan laut sebenarnya, karena alam selalu bekerja tanpa terduga. Teramat keras kehidupan seorang pelaut, perjuangannya menempuh ribuan mil serta menghadapi badai yang bisa datang kapan saja, semua itu tulus dipersembahkan seorang pelaut kepada keluarga dan seseorang yang dicintainya. Maka, beruntunglah kamu sebagai pasangan seorang pelaut, dia rela menempuh segala kesusahan hanya untuk melukis senyum diwajahmu. Dengan pengorbanan yang begitu luar biasa, kesetiaan dalam penantian adalah harga mati untuk diberikan kepada para pelaut sejati. 

Sedikit membosankan memang jadi seorang olive jika ditinggal dalam waktu yang sangat lama, tapi jangan salah, dia adalah perempuan tahan banting dalam segala kondisi. Jadi, dia sangat paham apa yang harus dia lakukan dalam masa penantian.
Cinta memang penuh tantangan, jika kamu siap tahan banting maka serangkaian keseruan diatas akan kamu alami. Siapkan dirimu ya!





Sabtu, 22 April 2017

Anak Popeye Si Pelaut

Sekian lama jari jemari ini tak lagi merangkai tulisan dalam sebuah kertas. Bahagia rasanya saya bisa kembali menuliskan apa yang sekiranya bisa menjadi alternative bacaan untuk para pembaca. Masih dengan tema “PELAUT ( A SAILOR MAN )”. Kali ini saya akan membahas tentang bagaimana kehidupan seorang anak pelaut.

Saya memiliki seorang putri kecil yang sangat cantik, saya dan suami menyematkan Tiara Zahsy Suherman sebagai nama untuk malaikat kecil yang Allah titipkan buat kami. Kehadirannya dalam kehidupan saya adalah kebahagiaan yang tak ternilai, menjadi seorang ibu tentu adalah impian setiap wanita, beruntung saya dipercaya untuk mengemban amanah sebesar ini. Namun, terbesit kekhawatiran dalam hati ini, apakah saya bisa melewati hari-hari baru menjadi seorang ibu tanpa suami…??? Apa yang akan saya katakan pada anak saya jika ia mencari keberadaan ayahnya…??? Sungguh dilema hati ini membuat saya harus kembali memperkokoh benteng kesabaran dan keikhlasan.



Saat melahirkan, suami saya tidak bisa mendampingi proses bersejarah dalam kehidupan ini dikarenakan ijin cuti yang tak ia dapatkan. Saya kuat dan bisa melewati proses itu berkat doa dan keikhlasan suami, dan juga dukungan dari keluarga tercinta. Akhirnya ijin cuti didapat suami saat usia putri kami 2 minggu, dan itupun hanya dapat cuti 10 hari saja. Ingin rasanya suami bisa lebih lama dirumah untuk menemani kami, namun apa daya demi memenuhi tugas dan tanggung jawabnya, saya harus kembali mengikhlaskan keberangkatan suami berlayar menempuh ribuan mil lautan. Saya tatap mata kecil nan indah itu dengan kegetiran dalam hati, “anakku sayang, kita harus bisa kuat melewati hari-hari nanti walau tanpa ayah, percayalah bahwa ayah sangat merindukan kita disana”, ucapku pada bayi mungil yang masih terjaga dalam dekapanku.




Pagi, siang, malam terus berganti. Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan saya dan Tiara lewati dengan mudah. Tidak ada kesulitan bagi saya untuk menjelaskan keberadaan ayahnya karena ia masihh terlalu kecil untuk bertanya “ayah dimana…???. Akhirnya setelah hampir setahun berlalu, suami saya pulang. Disinilah saya melihat ikatan seorang anak dan ayah yang begitu dekat meskipun keberadaan fisik yang jauh, Tiara terlihat begitu nyaman bersama ayahnya. Dia mulai terbiasa dengan keberadaan ayahnya, meski belum lancar dalam berbicara dia mulai terbiasa memanggil ayah setiap bangun dari tidurnya. Terlihat binar bahagia dari sorot mata suami saya dan sambil menggenggam erat tangan saya ia berkata, “terimakasih telah menjadi istri yang baik untuk ayah dan terimakasih telah menjadi bunda yang hebat untuk anak kita”.



Sampailah dimana titik kami harus kembali berpisah dalam waktu yang cukup lama. Masa cuti sebanyak apapun akan terasa sangat singkat bagi kami keluarga pelaut. Lagi-lagi dengan dalih kalimat “Demi tugas dan tanggung jawab serta demi masa depan” perpisahan harus terjadi. Terpisah jarak yang begitu jauh tidaklah menjadi masalah bagi saya, karena saya sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Tapi tidak dengan malaikat kecil saya,  setiap bangun dari tidurnya ia mencari sosok laki-laki yang selama hampir 2 bulan ini menemaninya. “Ayah… Ayah… Ayah…” teriaknya dari dalam kamar dan ia mulai mencari ayah disetiap ruangan rumah. Tak kuasa rasanya hati berada dalam situasi seperti ini, saya mulai merasa lemah setiap kali Tiara memanggil ayah dalam setiap tangisnya. 
Sambil memperlihatkan foto-foto bersama ayah, saya mulai menjelaskan dengan cara bercerita tentang pekerjaan ayahnya, dimana ayahnya, dan kenapa ayahnya tidak ada dirumah. Dia masih sangat kecil untuk dapat mengerti kondisi ini, akan tetapi saya sangat yakin dia bisa menangkap apa yang saya jelaskan padanya. Kini anak saya sudah berumur 1 tahun 10 bulan. Beruntungnya saya memiliki anak yang super aktif dan pintar, saat anak seusianya menangis dan mencari ayahnya sebagai tempat mengadu, ia hanya perlu masuk ke kamar dan berbicara dengan foto ayahnya, “Ayah… ala didit muuukkk (Red. Ayah… Tiara digigit semut)” .


Anak adalah amanah yang Tuhan titipkan untuk kita didik dan jaga dengan sebaik-baiknya. Sementara kita berusaha mengajari anak-anak tentang pelajaran hidup, justru anak-anak yang mengajarkan kita apa itu kehidupan. Tetaplah sabar dalam menghadapi polah tingkah buah hati tercinta, karena senyum yang tergambar diwajahnya adalah kekuatan terbesar bagi seorang ibu. 

Selasa, 29 September 2015

Bahagianya Ketika Sang Olive Hamil

Alhamdulillah hasilnya dua garis merah di testpack itu, meskipun yang satuan garisnya agak kurang jelas, tapi menurut literature yang ada di pamfletnya, itu menunjukkan bahwa aku hamil. Refleks setelah itu suami langsung meluk aku dan menangis. Alhamdulillah ucap syukur kami bersamaan, setelah itu kami lanjut tidur karena pagi nanti kami harus ke dokter untuk memastikan aku beneran hamil atau tidak.
Paginya aku bersama suami ke salah satu rumah sakit swasta di kota Mataram, antri lumayan lama sambil nonton acaranya Raffi Ahmad nikah sama Nagita. Akhirnya setelah ngantri lama, giliran aku dipanggil, aku sama suami masuk ruangan dokter. Deg-degan banget nunggu hasilnya. Begitu di USG, dokter belum bisa menemukan tanda-tanda kehamilanku, takut aku kalo-kalo ternyata hasil test tadi nggk akurat, takut bikin suami kecewa lagi ( sebulan sebelumnya suami berfikir aku hamil ). Setelah USG nggk ketemu, akhirnya dokter memeriksa dengan metode transvaginal dan hasilnya tampak jelas disitu ada selaput pembungkus janin yang nampak, meski janinnya belum terlihat, dan itu artinya AKU HAMIL.

Thanks GOD…. I’m so happy now…


Aku merasa ada yang aneh dengan indra penciumanku, mulai dari bumbu goreng, wangi parfume, wangi sabun, dan kini wangi tubuh suamiku sendiri enggan aku mencium baunya. kata mama itu bawaan bayi, jadi wajarlah kalo kayak begitu. Udah hidung yang bermasalah, sekarang lidah ikutan bermasalah, nggk ada makanan yang masuk, paksain makan ujung-ujungnya malah muntah. Minum susu buat debay malah muntah juga, obat dari dokter juga dimuntahin… Astagfirullah….. kenapa jadi begini, kasian bayiku… L L
Aku juga merasa badanku lemah, aku paksain untuk makan roti walaupun sedikit, daripada kondisi makin ngedrop, selain nggk baik buat aku, hal ini juga nggk baik buat janinku…
Semoga ini cepat berlau Tuhaaannn… L
Mataram, 18 Nopember 2014. Hari ini aku ditemani suami ke Rumah Sakit lagi buat Check up dedeq bayi…
Alhamdulillah banget, sekarang udah keliatan janinnya, usia kandunganku sekarang masuk 9 minggu….
Rasanya seneng banget liat anakku dilayar monitor itu, hemmmmm
Cepet besar yaaa sayang, tumbuhlah dengan baik dirahim bunda….



Akan tetapi, hari ini jadi pemeriksaan terakhir ditemenin suami, sebentar lagi suamiku berangkat lagi melaut, kapalnya berlayar dalam waktu yang cukup lama. Tapi nggk apa-apa toh juga kepergiannya kan untuk bekerja dan menuntut rezeki untuk aku dan calon anak kami. Aku hanya bisa berdoa agar suamiku “My Sailor” baik-baik saja disana serta dapat menjaga hatinya untuk keluarga kecil kami.
Akhirnya waktu itu tiba, Jum’at 5 Desember 2014 Sang Popeye berangkat berlayar dan itu artinya 7 bulan kedepan aku tidak berjumpa dengan suamiku tercinta. Selamat berlayar sayang, hati-hati dalam bekerja yaa yah, bunda akan selalu merindukan ayah.
Ya Allaah…
Berikanlah suami hamba kesehatan, lapangkanlah rezekinya, jauhkan ia dari segala mara bahaya, dan tuntunlah kami agar kami menjadi manusia yang penuh sabar.
Amanah yang suamiku titipkan akan aku jaga dengan sebaik-baiknya...
“Jagalah apa yang sudah Allah titipkan dalam rahimmu, aku percaya kau mampu bertahan dalam penantian panjang ini, aku akan kembali untukmu juga calon anak kita dengan membawa rezeki yang halal. Doakan aku selama tugas berlayar, ini kulakukan semata-mata untuk memenuhi kewajibanku sebagai suami untuk menafkahimu, laut lepas adalah ladang amal dan ibadahku untukmu dan calon anak kita, keluarga kecil kita”. 

Senin, 28 September 2015

Cerita Isteri Pelaut ( Olive Masa Kini )

Kok bisa kuat jadi istri pelaut…??? Ini adalah pertanyaan yang seringkali aku dengar dari banyak orang disekelilingku. Apa yang salah dari seorang pelaut..??? tanyaku dalam hati, selama ini aku enjoy saja menjalani kehidupan bersama suamiku. Banyak diluar sana desas desus yang mengecilkan seorang pelaut, tanggapan negatif terlebih yang sering kudengar. Ada yang mengatakan seorang pelaut itu identik dengan banyak wanita, seorang pelaut gemar bersandar dibanyak pelabuhan hati wanita, bahkan ada yang mengatakan bahwa seorang pelaut itu playboy sejati…. Namun aku hanya tersenyum mendengar asumsi kebanyakan orang. Aku tidak menampik semua asumsi yang berkembang di masyarakat, akan tetapi ada banyak sisi positif yang belum diketahui oleh banyak orang tentang pelaut. Sebelum membahas lebih jauh tentang seorang pelaut dan kenapa aku memilih menjadi istri seorang pelaut, sebaiknya aku perkenalkan diri terlebih dahulu, bukankah ada yang mengatakan tak kenal maka tak sayang…??? J
ameliakustanti.blogger.co.id
Aku staf di salah satu instansi pemerintah yang menangani tentang kesehatan hewan, tepatnya aku adalah seorang Paramedik Veteriner (Perawat Hewan/Asisten Dokter Hewan). Aku bangga menjadi seorang Paramedik Veteriner, disamping bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang aku miliki, aku juga bisa bersosialisasi dengan berbagai kalangan masyarakat. Namaku Yuli Amelia Kustanti (Amelia LovelyWife Suherman-Nama FB), 26 tahun. Saat ini aku berdomisili di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat, pulau yang terkenal dengan keindahan alam lautnya yang masih alami.
Aku sangat bersyukur atas apa yang aku miliki, Allah telah memberikan begitu lengkap kebahagiaan dalam hidupku. Allah memberiku teman dan sahabat, keluarga, serta suami yang kesemuanya sangat mencintaiku. Tak henti aku mengucap syukur atas segala nikmat yang Allah telah berikan kepadaku, Allah telah berjanji akan menambah nikmat bagi hambanya yang senantiasa bersyukur. Ditengah penantianku sebagai istri seorang pelaut tentu akan banyak tantangan yang harus kuhadapi sendiri karena suamiku tengah berada di luasnya samudera untuk menjalankan tugas berlayarnya. Komunikasi yang kadang sulit mengingat signal dan cuaca tak selalu bersahabat dengan kehidupan seorang pelaut. Menjadi istri atau pacar seorang pelaut adalah hal yang tidak mudah untuk dijalani, mengapa demikian…??? Menjalin hubungan dengan tingkat kebersamaan dan komunikasi yang tidak setiap hari adalah hal yang harus dipenuhi sebagai komitmen dalam menjalani hubungan bersama pelaut. Disinilah kesetianmu diuji, disinilah kesabaranmu diperhitungkan, dan disinilah komitmen itu dipertaruhkan.
Aku akan berbagi pengalamanku menjadi seorang Olive yang menantikan Popeye si Pelaut dengan meng-compare asumsi masyarakat dan pengalamanku selama ini. Sekedar info aja sich, aku pacaran sama suami aku sejak dibangku SMP dan akhirnya menikah tanggal 28 Agustus 2014. Perjalanan yang sangat panjang bukan untuk akhirnya aku menerima lamaran seorang pelaut.

check this compare right…
J
1.      Seorang Pelaut itu Playboy
Hasil survey menyatakan 80% Pelaut Playboy, 13% masih memberi kepercayaan, dan 7% no comment. Tanyakan ke hati kamu, jujur ya, aku bisa tebak kamu dalam lingkaran survey 80% itu… :) Kenapa bisa begitu ??? Itu karena imej yang berkembang seperti itu dan sulit untuk diubah.
Aku tidak menampik jika pelaut itu Playboy, itu karena aku seringkali mendapati suami aku (waktu itu masih pacar) chatingan dan bahkan berpacaran dengan wanita lain. Akan tetapi itu semua hanyalah bumbu penyedap dalam sebuah hubungan sekaligus pembelajaran. Kenapa aku bilang penyedap dan pembelajaran…???
aku katakan penyedap karena tak ada kesempurnaan dalam kehidupan, begitu pula dengan hubungan percintaan, tidak semuanya berjalan dengan mulus. Ada satu hal yang pasti dan aku tahu betul itu, suamiku adalah orang yang sangat mencintaiku. Aku jadikan semua kejadian itu adalah pembelajaran untuk menuju keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Rahmah. Aku mengibaratkan suamiku adalah kapal yang akan menampung banyak penumpang, namun kapal tidak akan terus menerus berlayar dilautan, karena ia tahu kapan dan dimana ia harus bersandar.
2. Pelaut Nggak Setia
Siapa bilang pelaut nggak setia….??? Aku kasih gambaran sedikit yaa…
Pelaut ruang lingkup kerjanya di laut, interaksi hanya pada orang – orang itu saja, intensitas di darat sangat teramat sedikit dan waktu yang amat singkat. Orang darat kerjanya di darat, interaksi dengan berbagai macam manusia, dan tidak dibatasi oleh waktu. Udah ketebak donk siapa yang lebih banyak punya peluang nggk setia…???
Dalam hal kesetiaan, pelaut memang membutuhkan pendamping yang setia, dikarenakan pekerjaan yang menjadi alasan bahwa pelaut akan jarang pulang. Bagi anda yang mempunyai suami pelaut, siap-siap saja untuk setia dan bersabar menanti suami pulang.
3. Benarkah Pelaut Setia
Jika bertanya demikian harus berpandangan yang luas, kesetiaan adalah hak setiap insan manusia. Kebanyakan dari mereka menganggap pelaut itu tidak setia, hal ini dengan adanya rumor bahwa pelaut suka berbuat seenaknya ketika di pelabuhan yang mereka singgahi. Benarkah demikian...??? Jawabannya adalah belum tentu. Pelaut adalah manusia biasa, pelaut hanyalah sebuah profesi/pekerjaan yang sama dengan mereka yang didarat cuma beda tempat saja, dilaut dan didarat.
Jadi semua tergantung pada manusianya saja, pandangan buruk terhadap pelaut lebih baik dihilangkan saja, sama dengan pandangan buruk mereka yang bekerja didarat.
Hubungan jarak jauh memang menyakitkan, bagaimana tidak sakit dihati karena jarang sekali bertemu padahal urusan cinta apalagi sudah ada ikatan suami istri pasti sangat membutuhkan kemesraan bersama. Namun apadaya, profesi dan pekerjaan membuat seorang pelaut rela meninggalkan keluarga dan orang yang dicintainya dirumah. sebenarnya bukan hanya pelaut, para pekerja didaratpun demikian, contohnya saja mereka yang suaminya bekerja di pabrik atau dikantor luar kota sangat mungkin sekali jarang bertemu.

Sampai pada akhirnya kita jangan pernah menilai orang dari jenis pekerjaannya, Menjadi pendamping seorang "Pelaut " bukanlah lagi sebuah momok yang mengerikan, aku bangga menjadi bagian hidup dari seorang pelaut. Cinta, kasih, sayang dan juga kesetiaan adalah bagian dari ketulusan hati. Kerjakan bagian kita dengan setia, dan lihatlah bagaimana Tuhan mengerjakan bagian-Nya dengan sempurna. :) :) :)