Selasa, 29 September 2015

Bahagianya Ketika Sang Olive Hamil

Alhamdulillah hasilnya dua garis merah di testpack itu, meskipun yang satuan garisnya agak kurang jelas, tapi menurut literature yang ada di pamfletnya, itu menunjukkan bahwa aku hamil. Refleks setelah itu suami langsung meluk aku dan menangis. Alhamdulillah ucap syukur kami bersamaan, setelah itu kami lanjut tidur karena pagi nanti kami harus ke dokter untuk memastikan aku beneran hamil atau tidak.
Paginya aku bersama suami ke salah satu rumah sakit swasta di kota Mataram, antri lumayan lama sambil nonton acaranya Raffi Ahmad nikah sama Nagita. Akhirnya setelah ngantri lama, giliran aku dipanggil, aku sama suami masuk ruangan dokter. Deg-degan banget nunggu hasilnya. Begitu di USG, dokter belum bisa menemukan tanda-tanda kehamilanku, takut aku kalo-kalo ternyata hasil test tadi nggk akurat, takut bikin suami kecewa lagi ( sebulan sebelumnya suami berfikir aku hamil ). Setelah USG nggk ketemu, akhirnya dokter memeriksa dengan metode transvaginal dan hasilnya tampak jelas disitu ada selaput pembungkus janin yang nampak, meski janinnya belum terlihat, dan itu artinya AKU HAMIL.

Thanks GOD…. I’m so happy now…


Aku merasa ada yang aneh dengan indra penciumanku, mulai dari bumbu goreng, wangi parfume, wangi sabun, dan kini wangi tubuh suamiku sendiri enggan aku mencium baunya. kata mama itu bawaan bayi, jadi wajarlah kalo kayak begitu. Udah hidung yang bermasalah, sekarang lidah ikutan bermasalah, nggk ada makanan yang masuk, paksain makan ujung-ujungnya malah muntah. Minum susu buat debay malah muntah juga, obat dari dokter juga dimuntahin… Astagfirullah….. kenapa jadi begini, kasian bayiku… L L
Aku juga merasa badanku lemah, aku paksain untuk makan roti walaupun sedikit, daripada kondisi makin ngedrop, selain nggk baik buat aku, hal ini juga nggk baik buat janinku…
Semoga ini cepat berlau Tuhaaannn… L
Mataram, 18 Nopember 2014. Hari ini aku ditemani suami ke Rumah Sakit lagi buat Check up dedeq bayi…
Alhamdulillah banget, sekarang udah keliatan janinnya, usia kandunganku sekarang masuk 9 minggu….
Rasanya seneng banget liat anakku dilayar monitor itu, hemmmmm
Cepet besar yaaa sayang, tumbuhlah dengan baik dirahim bunda….



Akan tetapi, hari ini jadi pemeriksaan terakhir ditemenin suami, sebentar lagi suamiku berangkat lagi melaut, kapalnya berlayar dalam waktu yang cukup lama. Tapi nggk apa-apa toh juga kepergiannya kan untuk bekerja dan menuntut rezeki untuk aku dan calon anak kami. Aku hanya bisa berdoa agar suamiku “My Sailor” baik-baik saja disana serta dapat menjaga hatinya untuk keluarga kecil kami.
Akhirnya waktu itu tiba, Jum’at 5 Desember 2014 Sang Popeye berangkat berlayar dan itu artinya 7 bulan kedepan aku tidak berjumpa dengan suamiku tercinta. Selamat berlayar sayang, hati-hati dalam bekerja yaa yah, bunda akan selalu merindukan ayah.
Ya Allaah…
Berikanlah suami hamba kesehatan, lapangkanlah rezekinya, jauhkan ia dari segala mara bahaya, dan tuntunlah kami agar kami menjadi manusia yang penuh sabar.
Amanah yang suamiku titipkan akan aku jaga dengan sebaik-baiknya...
“Jagalah apa yang sudah Allah titipkan dalam rahimmu, aku percaya kau mampu bertahan dalam penantian panjang ini, aku akan kembali untukmu juga calon anak kita dengan membawa rezeki yang halal. Doakan aku selama tugas berlayar, ini kulakukan semata-mata untuk memenuhi kewajibanku sebagai suami untuk menafkahimu, laut lepas adalah ladang amal dan ibadahku untukmu dan calon anak kita, keluarga kecil kita”. 

Senin, 28 September 2015

Cerita Isteri Pelaut ( Olive Masa Kini )

Kok bisa kuat jadi istri pelaut…??? Ini adalah pertanyaan yang seringkali aku dengar dari banyak orang disekelilingku. Apa yang salah dari seorang pelaut..??? tanyaku dalam hati, selama ini aku enjoy saja menjalani kehidupan bersama suamiku. Banyak diluar sana desas desus yang mengecilkan seorang pelaut, tanggapan negatif terlebih yang sering kudengar. Ada yang mengatakan seorang pelaut itu identik dengan banyak wanita, seorang pelaut gemar bersandar dibanyak pelabuhan hati wanita, bahkan ada yang mengatakan bahwa seorang pelaut itu playboy sejati…. Namun aku hanya tersenyum mendengar asumsi kebanyakan orang. Aku tidak menampik semua asumsi yang berkembang di masyarakat, akan tetapi ada banyak sisi positif yang belum diketahui oleh banyak orang tentang pelaut. Sebelum membahas lebih jauh tentang seorang pelaut dan kenapa aku memilih menjadi istri seorang pelaut, sebaiknya aku perkenalkan diri terlebih dahulu, bukankah ada yang mengatakan tak kenal maka tak sayang…??? J
ameliakustanti.blogger.co.id
Aku staf di salah satu instansi pemerintah yang menangani tentang kesehatan hewan, tepatnya aku adalah seorang Paramedik Veteriner (Perawat Hewan/Asisten Dokter Hewan). Aku bangga menjadi seorang Paramedik Veteriner, disamping bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang aku miliki, aku juga bisa bersosialisasi dengan berbagai kalangan masyarakat. Namaku Yuli Amelia Kustanti (Amelia LovelyWife Suherman-Nama FB), 26 tahun. Saat ini aku berdomisili di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat, pulau yang terkenal dengan keindahan alam lautnya yang masih alami.
Aku sangat bersyukur atas apa yang aku miliki, Allah telah memberikan begitu lengkap kebahagiaan dalam hidupku. Allah memberiku teman dan sahabat, keluarga, serta suami yang kesemuanya sangat mencintaiku. Tak henti aku mengucap syukur atas segala nikmat yang Allah telah berikan kepadaku, Allah telah berjanji akan menambah nikmat bagi hambanya yang senantiasa bersyukur. Ditengah penantianku sebagai istri seorang pelaut tentu akan banyak tantangan yang harus kuhadapi sendiri karena suamiku tengah berada di luasnya samudera untuk menjalankan tugas berlayarnya. Komunikasi yang kadang sulit mengingat signal dan cuaca tak selalu bersahabat dengan kehidupan seorang pelaut. Menjadi istri atau pacar seorang pelaut adalah hal yang tidak mudah untuk dijalani, mengapa demikian…??? Menjalin hubungan dengan tingkat kebersamaan dan komunikasi yang tidak setiap hari adalah hal yang harus dipenuhi sebagai komitmen dalam menjalani hubungan bersama pelaut. Disinilah kesetianmu diuji, disinilah kesabaranmu diperhitungkan, dan disinilah komitmen itu dipertaruhkan.
Aku akan berbagi pengalamanku menjadi seorang Olive yang menantikan Popeye si Pelaut dengan meng-compare asumsi masyarakat dan pengalamanku selama ini. Sekedar info aja sich, aku pacaran sama suami aku sejak dibangku SMP dan akhirnya menikah tanggal 28 Agustus 2014. Perjalanan yang sangat panjang bukan untuk akhirnya aku menerima lamaran seorang pelaut.

check this compare right…
J
1.      Seorang Pelaut itu Playboy
Hasil survey menyatakan 80% Pelaut Playboy, 13% masih memberi kepercayaan, dan 7% no comment. Tanyakan ke hati kamu, jujur ya, aku bisa tebak kamu dalam lingkaran survey 80% itu… :) Kenapa bisa begitu ??? Itu karena imej yang berkembang seperti itu dan sulit untuk diubah.
Aku tidak menampik jika pelaut itu Playboy, itu karena aku seringkali mendapati suami aku (waktu itu masih pacar) chatingan dan bahkan berpacaran dengan wanita lain. Akan tetapi itu semua hanyalah bumbu penyedap dalam sebuah hubungan sekaligus pembelajaran. Kenapa aku bilang penyedap dan pembelajaran…???
aku katakan penyedap karena tak ada kesempurnaan dalam kehidupan, begitu pula dengan hubungan percintaan, tidak semuanya berjalan dengan mulus. Ada satu hal yang pasti dan aku tahu betul itu, suamiku adalah orang yang sangat mencintaiku. Aku jadikan semua kejadian itu adalah pembelajaran untuk menuju keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Rahmah. Aku mengibaratkan suamiku adalah kapal yang akan menampung banyak penumpang, namun kapal tidak akan terus menerus berlayar dilautan, karena ia tahu kapan dan dimana ia harus bersandar.
2. Pelaut Nggak Setia
Siapa bilang pelaut nggak setia….??? Aku kasih gambaran sedikit yaa…
Pelaut ruang lingkup kerjanya di laut, interaksi hanya pada orang – orang itu saja, intensitas di darat sangat teramat sedikit dan waktu yang amat singkat. Orang darat kerjanya di darat, interaksi dengan berbagai macam manusia, dan tidak dibatasi oleh waktu. Udah ketebak donk siapa yang lebih banyak punya peluang nggk setia…???
Dalam hal kesetiaan, pelaut memang membutuhkan pendamping yang setia, dikarenakan pekerjaan yang menjadi alasan bahwa pelaut akan jarang pulang. Bagi anda yang mempunyai suami pelaut, siap-siap saja untuk setia dan bersabar menanti suami pulang.
3. Benarkah Pelaut Setia
Jika bertanya demikian harus berpandangan yang luas, kesetiaan adalah hak setiap insan manusia. Kebanyakan dari mereka menganggap pelaut itu tidak setia, hal ini dengan adanya rumor bahwa pelaut suka berbuat seenaknya ketika di pelabuhan yang mereka singgahi. Benarkah demikian...??? Jawabannya adalah belum tentu. Pelaut adalah manusia biasa, pelaut hanyalah sebuah profesi/pekerjaan yang sama dengan mereka yang didarat cuma beda tempat saja, dilaut dan didarat.
Jadi semua tergantung pada manusianya saja, pandangan buruk terhadap pelaut lebih baik dihilangkan saja, sama dengan pandangan buruk mereka yang bekerja didarat.
Hubungan jarak jauh memang menyakitkan, bagaimana tidak sakit dihati karena jarang sekali bertemu padahal urusan cinta apalagi sudah ada ikatan suami istri pasti sangat membutuhkan kemesraan bersama. Namun apadaya, profesi dan pekerjaan membuat seorang pelaut rela meninggalkan keluarga dan orang yang dicintainya dirumah. sebenarnya bukan hanya pelaut, para pekerja didaratpun demikian, contohnya saja mereka yang suaminya bekerja di pabrik atau dikantor luar kota sangat mungkin sekali jarang bertemu.

Sampai pada akhirnya kita jangan pernah menilai orang dari jenis pekerjaannya, Menjadi pendamping seorang "Pelaut " bukanlah lagi sebuah momok yang mengerikan, aku bangga menjadi bagian hidup dari seorang pelaut. Cinta, kasih, sayang dan juga kesetiaan adalah bagian dari ketulusan hati. Kerjakan bagian kita dengan setia, dan lihatlah bagaimana Tuhan mengerjakan bagian-Nya dengan sempurna. :) :) :)